Life After Marriage: Suami=Partner


Besok, pernikahan saya tepat berusia satu tahun. Siapa yang sangka tanggal 7 kami pilih dari sekian banyaknya angka yang ada di bulan Juni 2014. Dipilih secara random oleh dua orang nekat waktu lagi test food catering di sebuah gedung di Taman Mini. Hahaha. Takdir.

My happiness. Thanks Ucup for this lovely pic!

My happiness. Thanks Ucup for this lovely pic!

Bicara soal life after marriage, memang banyak kejutan ternyata. Dan saya yakin masih akan ada kejutan setiap tahunnya. Kejutan ngorok dan jorok mungkin hanya sebagian kecil dari masalah printilan lainnya, yang bisa jadi besar kalau pasangan suami istri ‘masih dalam tahap belajar bijaksana’.

Iya, saya dan suami kan masih dalam tahap belajar ya. Satu tahun itu kata orang tua belum semua sifat asli kebuka. Jadi sejauh ini saya masih lihat Pak Bayu so sweet kayak jaman masih pacaran dulu, masih gandeng tangan saya baik di mall maupun di atas tempat tidur, masih cepika cepiki sebelum berangkat kerja, merangkul istrinya yang lagi bete… mudah-mudahan sampai seterusnya seperti ini, jadi anggapan orang tua pernikahan lima tahun sudah hambar itu bisa dipatahkan.

Tidak pernah ada kata siap bagi setiap orang untuk melaju ke jenjang pernikahan. Karena kita akan menikah dengan orang yang sangat berbeda dengan diri kita sendiri. Dan kita nggak pernah tahu bagaimana pasangan kita akan berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Cuma Tuhan yang Maha kuasa yang mampu membolak-balikkan perasaan. Tapi kita juga nggak akan sampai di fase kehidupan itu kalau nggak berani dan nggak nekat. Jadi resepnya kalau mau nikah (sok tua banget deh, padahal masih newbie), setelah yakin si dia bakal jadi partner hidup yang asik, ya udah nekat aja, kita kan nggak tahu hari esok. Hehe.

Meskipun berat, tapi Pak Bayu tetep ketawa. Ha-ha!

Meskipun berat, tapi Pak Bayu tetep ketawa. Ha-ha!

Jadi, satu tahun ini apa suka duka saya setelah menikah?

Yang pasti kalau ditanya momongan, kami belum berhasil saudara-saudara! Doakan kami ya! *ala Takeshi Castle*
Setahun kemarin santai banget dan kalau ditanya mau punya baby, jawabnya pasti pengen, tapi nggak ngoyo, se-dikasihnya aja sama Allah.

Namun, berhubung sudah satu tahun pernikahan, ya bolehlah tahun ini effort-nya untuk punya baby ditambah, hehehe.

After marriage, yang jelas berat badan naik luar biasa. Hahaha. Serem kalo liat timbangan sekarang. Nggak ngerti kenapa naiknya drastis banget. Banyak yang bilang gara-gara terlalu happy setelah nikah. Ya, mungkin salah satunya itu. Tapi mungkin juga karena saya mulai berhenti merokok.

Yeay! Keren ya, akhirnya bisa quit smoking! Ini pencapaian luar biasa sih buat saya yang sebelumnya perokok hiperaktif (lha, emang ada?!). Setelah berhenti mulut emang jadi gemes pengen nyemil terus, ditambah minum susu esensis yang katanya bikin hormon berkembang. Alamak, hasilnya pantat saya jadi montok luar binasa. Jadi, ceritanya bulan puasa ini saya mau nurunin berat badan, supaya lebih sehat dan makin disayang suami. Ciyeh!

Satu tahun menikah ditambah masa pacaran satu setengah tahun plus temenan dua tahun. Hubungan saya sama suami makin kuat karena kita menjalaninya easy going banget. Kayak nggak ada ‘jabatan’ suami dan istri. Kita ngejalaninnya seperti tanpa beban. Tahu sama tahu aja tugas masing-masing. Kita bersyukur sih mengawali hubungan dari temen, ke sahabat, baru lanjut ke pacar dan akhirnya jadi pasangan suami istri.

Saya bikin kopi kadang masih diminta, yang setrika baju suami masih tukang laundry kiloan, masak buat suami cuma di akhir pekan, ninggalin kamar dalam keadaan kayak kapal pecah waktu berangkat kerja, masih banyak banget lah kekurangan saya jadi istri. Tapi Alhamdulillah diterima suami dengan lapang dada (mudah-mudahan). Sama lapang dadanya seperti ketika saya melihat tumpukan baju di lemari acak-acakan, plastik bungkus rokok berserakan di mana-mana, jaket bertebaran di kursi ruang tamu, buku bertebaran di meja kerja, dan hal-hal berbau ‘laki-laki’ lainnya.

Tapi saya sungguh luar biasa merasa beruntung punya suami yang mau mengerti bahwa istrinya nggak sempurna. Luar biasa beruntung punya suami yang mau pasang seprai tempat tidur (Sumpah, untuk yang satu ini Pak Bayu jago banget, rapi banget hasilnya). Luar biasa beruntung punya suami yang sabarnya minta ampun, nggak pernah bentak-bentak, nggak pernah melotot (ya soalnya matanya sipit, susah juga mau melotot, haha).

Apa perubahan saya after marriage?

Kalau kata sahabat saya sih, setelah nikah saya udah mulai ‘agak’ sabar. Haha. Secara dulu kan saya emosional, mungkin karena pasangan saya si Pak Bayu itu orangnya santai jadi saya kebawa lebih slow down baby. Hihihi. Saya (katanya) juga udah lebih ‘wanita’ dan nggak kayak preman pasar lagi. Hmm, untuk yang satu itu kayaknya saya setuju.

Nah, salah satu alasan saya dulu akhirnya memutuskan pilihan pada Pak Bayu mungkin itu. Ada hal positif dari diri dia yang bisa ditularkan pada saya. Ya sabarnya, ya positive thingking-nya, ya dewasanya. Karena itu tidak ada pada diri saya. Saling mengisi sih intinya, saat Pak Bayu insecure gak jelas juntrungannya, saya pun ikut menguatkan.

Pokoknya seru deh nikah itu. Jadi punya temen gosip tengah malam, punya temen nyinyir kapan pun di mana pun, punya temen yang bisa dimintain tolong yang susah-susah, cobain aja kalo nggak percaya!

Harapan saya di Anniversary pertama pernikahan kami nggak muluk, saya cuma ingin rumah tangga kami tentram dan damai, bahagia, dan kalau Allah mengizinkan, segera diberi momongan. Biar lebih lengkap bahagianya. Karena selama ini rasa sayang kami ditumpahkan kepada Pumpung, yang tak lain adalah kucing anggora-kuning-super-kolokan-kesayangan-keluarga-yang-berasa-anak-bontot-di-rumah-jadi-nggak-boleh-salah-sedikit-juga. Hih!

Satu lagi, saya dan Pak Bayu masih akan terus traveling di tahun-tahun pernikahan kami selanjutnya. Meskipun tahun ini agak jarang ya jalan-jalannya, dikarenakan masing-masing baru pindah ke tempat kerja baru dan belum punya cuti, mudah-mudahan tahun depan kita masih diberikan umur untuk bisa berpetualang bersama. Karena traveling yang seru itu bukan ke mana, tapi dengan siapa kita pergi.

Happy Anniversary!

Happy Anniversary!

Happy 1st Anniversary for us..

“Marriage can bore you but there is a fortitude that comes from it, too. When you need to lean on it, you are so thankful that you can.” – Ellen Tien

3 thoughts on “Life After Marriage: Suami=Partner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s