Lucky 27 :)


Dwifantya Aquina menginjak usia 27 tahun 9 Februari 2014.

Begitu banyak cinta hadir dalam hidup saya di usia yang semakin matang ini. Bukan hanya kejutan dan kue cokelat bertahta lilin cantik yang saya terima. Tapi juga cincin.

Ya, cincin. Sebagai tanda ikatan menuju langkah yang lebih serius. Siapa sangka akhirnya saya tiba di fase itu. Pertunangan. Dilamar oleh lelaki pilihan saya. Cinta bertubi-tubi menghujani saya di bulan Februari. Bulan penuh kasih.

Saya mengenal Bayu Hermawan tahun 2009. Waktu itu saya baru lulus kuliah dan mulai bekerja di sebuah media online nasional. Dia senior, yang akhirnya jadi teman baik. Seingat saya, pertemanan itu bermula setelah beberapa bulan saya mulai bekerja.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat 30 Desember 2009. Diperjalanan pulang setelah meliput di komisi antirasuah, saya diperintah menuju kediaman Gus Dur. Saya meneruskan bekerja hingga larut malam, hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB keesokan harinya. Saya belum punya kendaraan. Lalu lelaki ini meminjamkan kendaraannya kepada saya untuk pulang. Dan dia tetap tinggal di sana sampai pagi. Saat itulah saya mulai berteman.

Tahun berikutnya, saya pindah kerja. Pertemanan terus berlanjut. Malah semakin akrab. Tahun 2011, kami pergi nonton konser bersama. Java Rockin’ Land di Ancol. Sayang, kami terpisah saat band pujaan saya, The Cranberries, memulai pertunjukkannya. Namun, sejak itu kami semakin dekat. Pertemuan demi pertemuan berlanjut. Lebih intim. Kami saling bertukar cerita tentang apa saja, mulai pekerjaan, keluarga, hingga masalah cinta.

Java Rockin' Land 2011

Java Rockin’ Land 2011

Waktu itu, mungkin dia belum pas di hati. Sehingga, waktu 9 Februari 2012, tepat pukul 00.00 dia membawakan kue ulang tahun ke rumah, perasaan saya biasa saja. Beberapa bulan berikutnya, Bayu menjauh. Saya mulai merasa, sepertinya ada yang hilang. Dinamika pun dimulai.

Bayu adalah penggemar berat saya di ruang karaoke. Setiap saya bernyanyi, yang saya ingat, dia selalu tepuk tangan paling keras. Dia punya sejuta pujian untuk saya. Saya kehilangan pemuja saya saat itu. Tidak ada lagi lelaki yang berteriak, “Allright!”, “Good!”, atau “Gilak!” di ruang karaoke. Saya kesepian.

Karaoke

Karaoke

Bayu adalah pendengar yang baik. Setiap saya ingin berkeluh kesah, di manapun dia berada, ketika saya minta untuk bertemu, dia pasti datang. “Mas, dimana? Cerita-cerita yuk.” Tidak perlu menunggu jawaban, dia pun datang. Dia selalu ada saat saya membutuhkannya. Saya baru sadar ketika malam itu saya berkata hal yang sama, “Gue nggak bisa malam ini.”. Penolakan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya semakin kehilangan.

Saya tidak tahu kemana Bayu selama beberapa bulan itu. Yang pasti, dia menghindar setelah sebelumnya saya menyatakan masih senang berteman dengannya ketimbang ke hubungan yang lebih serius. Gara-gara itu, saya baru sadar, saya kehilangan sahabat saya.

Bahkan, saat kakak saya berurusan dengan kantor polisi karena laporan kehilangan, dia datang. Datang dari jarak yang tidak dekat. Malam itu hujan. Dia tidak banyak membantu proses laporan sebenarnya. BAP sudah hampir selesai. Tapi dia datang. Biar terlambat, dia datang. Meski hanya memberikan support. Kepada saya dan kakak. Dia ada disamping saya. Saya mulai rindu diperlakukan istimewa oleh sahabat saya.

Saya mulai berpikir. Saya harus bertemu dengan Bayu. Untuk meluruskan peristiwa sebelumnya? Tidak juga. Hanya ingin tahu kabarnya. Apa yang baru dalam hidupnya. Apakah sudah ada sahabat lain yang lebih istimewa sehingga melupakan teman berceritanya ini. Akhirnya kamipun bertemu di sebuah tempat dengan dua teman lainnya. Saya senang melihatnya sehat. Sedikit lebih gemuk. Namun, lebih pendiam dari sebelumnya. Dia tak lagi banyak bercerita. Melihat saya secara tegaspun tidak. Saya merasa ada yang salah.

Saya kemudian memutuskan untuk kembali berkomunikasi intens dengan Bayu. Kami berekreasi dengan seorang kawan lainnya ke taman bermain. Sepulang dari sana, saya beranikan diri mengkonfirmasi apa yang terjadi beberapa bulan belakangan. Tidak ada jawaban pasti. Hingga akhirnya kami bertiga memutuskan jalan-jalan ke Bandung di bulan puasa. Saya menikmati perjalanan itu. Keadaan sudah mulai cair. Bayu sudah bisa tertawa lepas seperti waktu dulu saya mengenalnya. Dia kembali banyak bercerita. Dia kembali seperti dulu. Mentertawakan hal-hal yang hanya kami yang tahu. Ini orang yang saya kenal.

Setelah lebaran, dia mengajak saya ke Semarang. Perjalanan dimulai lagi. 20 jam di perjalanan karena masalah transportasi yang di luar dugaan, membuat kami semakin akrab. Di sana saya dikenalkan dengan keluarganya. Hubungan kami tak terasa kian dekat. Meski beberapa pihak yang tidak menyukai kedekatan kami terus menyerang. Kami menikmati semua perjalanan itu. Semua masalah diselesaikan bersama. Karena kami biasa duduk bicara dan minum kopi bersama. Tiga tahun mengenalnya, entah berapa gelas kopi sudah kami habiskan. Dengan kopi, masalah jadi enteng.

Semarang 2012

Semarang 2012

Entah kapan kami memutuskan mulai serius berhubungan. Yang jelas waktu itu kami sepakat tidak akan membuang waktu. “Mau nggak nikah sama gue?” Tidak pakai tedeng aling-aling. Tidak ada bunga. Tidak ada tempat romantis. Cuma satu kalimat yang dengan lugas langsung saya iyakan.

Ulang tahun ke-26, saya kembali dapat kue cokelat. Kami merayakannya dengan sahabat. Roy. Orang yang kerap mendengar cerita dan keluhan saya selama kehilangan Bayu. Tahun 2013 menjadi perjalanan mulus cerita kami. Dua bulan sekali kami bepergian. Traveling dengan suka cita. Kemanapun. Sesuka kami.

Cerita di atas mungkin hanya sebagian kecil yang melekat dalam ingatan saya. Meski perjalanan tidak selalu mulus, dua pribadi yang berbeda disatukan memang tidak mudah. Di akhir tahun, kami memutuskan menyatukan dua keluarga. Semakin serius. Saya pun tak sangka secepat ini perjalanan kami. Namun, kami bahagia dengan komitmen tulus ini.

Masih tak percaya hari Minggu kemarin saya menangis saat meminta izin kepada kakak perempuan saya satu-satunya untuk melangkahinya. Mungkin ini takdir yang sudah digariskan Allah. Sejak jauh hari, kakak pun sudah mengikhlaskan saya melangkah lebih dulu. Saya lega. Restu orangtua pun sudah di tangan.

Saat cincin itu melingkar di jari manis kiri saya, emosi saya membuncah. Haru. Bahagia. Luar biasa. Disaksikan puluhan pasang mata. Saya dilamar! Di hari ulang tahun saya!

The day!

The day!

Beberapa tahun lalu, di setiap doa selalu saya selipkan keinginan saya untuk dipertemukan dengan laki-laki yang bukan hanya kelak menjadi suami saya. Namun, teman hidup. Saat itu, saya merasa sudah waktunya hidup saya lebih serius. Saya ingin laki-laki yang bisa saya ajak tukar pikiran sampai tua nanti. Saya ingin hidup bersama seorang sahabat yang tahu kekurangan saya. Membesarkan anak-anak kami bukan hanya dengan ilmu pengetahuan, tapi juga akhlak.

Kalau memang Bayu adalah lelaki yang dikirimkan Allah untuk saya, maka ridhoilah perjalanan kami berikutnya.

Don’t marry the person you think you can live with; marry only the individual you think you can’t live without. -James C. Dobson

2 thoughts on “Lucky 27 :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s