Siang Tadi di Istana Bersama Pramono Edhie


Katanya hari ini presiden akan dikudeta. Ternyata malah saya yang terkudeta di ruang wartawan istana.

Setelah hampir satu bulan saya dikandangkan di kantor, akhirnya hari ini saya diberi kesempatan menghirup udara bebas lapangan. Kembali memburu dan meramu berita. Saya kira bakal menyita waktu lama karena isu kudeta kacangan itu, rupanya belum sampai senja presiden sudah bersiap untuk bertolak ke Bali dalam rangka kunjungan kerja.

Pressroom jadi dingin karena enam penyejuk ruangan hanya digunakan lima wartawan yang tersisa hingga pukul 17.30 sore ini. Saya pun memilih untuk duduk-duduk di depan sambil melihat beberapa paspampres bertukar shift di depan pos penjagaan istana. Tidak lama mereka hendak menurunkan bendera. Melihat saya yang sedang santai mengetik sambil duduk di lantai, mereka meniup pluit. Saya kembali masuk ke dalam ruang wartawan. Dari pada disuruh ikut upacara penurunan bendera sendirian bareng paspampres, lebih baik masuk sebentar ke dalam ruangan yang dinginnya sudah mirip kulkas ini.

Siang tadi, saat presiden sedang bertemu dengan Presiden Liberia Ellen Johnson, saya berkesempatan untuk berfoto bersama dengan KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo. Kebetulan saat presiden sedang pertemuan tertutup, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Pak KSAD sedang berbincang-bincang di salah satu sudut Istana Merdeka. Melihat pemandangan tak biasa itu, wartawan pun langsung merubung, mengambil gambar keakraban mereka. Lalu kami pun ‘gatal’ untuk segera mewawancarai mereka.

Bersama KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie di Istana Merdeka (FOTO: Pribadi)

Bersama KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie di Istana Merdeka (FOTO: Pribadi)

Jenderal Pramono namanya memang sedang naik daun. Bulan Mei 2013 nanti, beliau akan mengakhiri masa tugasnya, pensiun di usia 58 tahun. Jelang Kongres Luar Biasa Partai Demokrat akhir Maret nanti, nama adik ipar SBY ini sempat disebut-sebut pantas menggantikan Anas Urbaningrum duduk di kursi Ketua Umum. Selain itu, mantan Komandan Jenderal Kopassus ini juga menjadi sederet nama yang disebut-sebut bakal jadi kandidat calon presiden 2014.

Siang tadi, adalah pertemuan pertama saya dengan Pramono dalam jarak yang begitu dekat dan bisa berbincang cukup akrab. Mungkin waktunya sedang santai dan tidak diburu-buru, sehingga ia tidak menjaga jarak. Apalagi, kasus penyerangan Lapas Cebongan di Sleman Sabtu lalu yang menewaskan 4 tersangka pengeroyokan anggota Kopassus di Hugo’s Cafe Yogyakarta, sedang hangat-hangatnya diberitakan. Menyambut masa pensiunnya, Pramono malah disibukkan menampik isu keterlibatan anak buahnya dalam penyerangan bersenjata itu. Kedekatannya dengan wartawan siang tadi di Istana bukan tidak mungkin untuk memunculkan citra baik TNI di publik.

Dalam wawancara tadi, Pramono sempat menyampaikan rencananya usai melepas jabatannya. Meski ia kerap disebut akan terjun ke dunia politik dan ikut andil dalam pemilu 2014, peraih penghargaan Bintang Bhayangkara Utama ini mengaku akan fokus pada keluarganya. Ada secuil cerita menarik yang dikisahkan Pramono dalam wawancara tadi. Niatnya untuk kembali fokus menata keluarga bukan tanpa alasan. Puluhan tahun mengabdi pada NKRI, kesibukannya ini membuatnya jauh dari keluarga. Hingga pada suatu hari anaknya sampai tak mengenalnya. “Maaf ini pribadi, tapi anak saya pernah memanggil saya dengan sebutan ‘om’,” begitu kata Pramono.  Miris.

Mendengar ucapannya ini, saya jadi teringat satu kawan baik saya yang merupakan anggota Kopassus, yang saat ini tengah bertugas di Papua. Tentu sulit untuk bisa selalu dekat dengan keluarga karena tugasnya membela negara sudah disumpah untuk berada di atas segalanya. Harus siap ditugaskan kemanapun dan kapanpun. Yah, itu risiko profesi. Kawan saya itupun begitu. Bisa dapat sinyal untuk komunikasi saja sudah begitu girangnya. Tengah malam mengirim pesan berkali-kali kalau rindu Jakarta, rindu kekasihnya, rindu keluarganya, rindu kawan-kawannya di Jakarta. Tapi sekali lagi, itu risiko atas pekerjaan.

Kembali bicara soal Pramono, tadi beliau tidak bicara banyak soal penyerangan di Lapas Cebongan. Jawabannya sama seperti Panglima TNI, masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian. Ia hanya menambahkan, kalau ia tidak mengirim tim investigasi seperti kejadian penyerangan Mapolres OKU beberapa waktu lalu, karena penegak hukum memang belum mengantongi bukti bahwa TNI terlibat dalam kejadian ini. Memang berbeda, kalau kejadian penyerangan di Polres OKU itu wajah para anggota TNI terekam jelas oleh kamera, sehingga siapa-siapa yang terlibat, mudah dikenali. Sedangkan dalam kasus penyerangan di Lapas Cebongan, wajah para pelaku ditutup cadar, kamera CCTV pun dirusak. Saksi mata habis ditembaki hingga mati.

Peristiwa penyerangan di Lapas kemarin itu memang biadab, layaknya film action Hollywood. Namun, herannya, Presiden SBY tak angkat bicara sama sekali. Ini negara hukum, ketika ada penyerangan taktis dan tampak begitu terencana dengan senjata yang dulunya pernah jadi senjata standar TNI, kenapa pimpinan negara tidak bertindak? Jangankan bertindak, angkat bicara saja tidak. Hanya Menko Polhukam Djoko Suyanto yang siang tadi mewakili pernyataan presiden. “Siapapun pelakunya harus dikejar sampai ketemu dan ditarik ke pengadilan,” kata dia, mewakili presiden SBY. Mewakili. Kenapa harus diwakili saat keamanan negara sudah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab? Kenapa setelah Solo yang tenang, kini Yogyakarta yang damai dirusak keamanannya? Lapas itu harusnya steril dan tidak mungkin preman berpengalaman seperti apapun mampu menembus pengamanan seketat itu. Pelakunya pasti tahu sedikit banyak soal pengamanan lapas. Kenapa yang dicari 4 tersangka pengeroyok komandan Kopassus? Kenapa nama mereka disebut satu per satu sebelum ditembaki secara membabi buta? Konyol kalau pertanyaan-pertanyaan ini dalam tiga hari penyelidikan tak diketahui jawabannya oleh polisi.

Inilah tahun politik yang bangga disebut-sebut oleh ‘mereka’ yang ingin merampas kekuasaan negara jadi miliknya. Bukan milik rakyat. NKRI masih ada?

Sudahlah. Pertemuan dengan Pramono Edhie siang ini pun tak mampu menjawabnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s