Catatan Perjalanan ke Kota Pelajar


Suatu malam usai bekerja saya dan sahabat biasa menghabiskan waktu untuk sekedar minum kopi di daerah selatan ibukota. Hanya untuk melepas penat dan sedikit berbagi cerita mengenai hari kami.

Entah dari mana asal pembicaraan itu, intinya pencarian lokasi liburan pun dimulai. Tahun lalu kami sudah pernah menjelajah ke Yogyakarta. Namun, kali ini kami sepakat kembali menjejakkan kaki ke kota pelajar. Cari asal cari dengan memanfaatkan jaringan yang ada, kami menemukan sebuah desa wisata di daerah Bantul. Lokasi puluhan kilometer dari kota. Dilihat dari beberapa gambar yang ada tempatnya begitu tenang, damai, jauh dari keramaian. Namanya Desa Tembi. Kesepakatan kedua ditentukan. Kami akan liburan di sana.

Esoknya beberapa kawan dekat lainnya kami infokan. Merekomendasikan tempat liburan ini habis-habisan. Hingga akhirnya kami membooking tempat dan membeli tiket kereta, beberapa kawan mundur dengan masing-masing alasan. Akhirnya kami mantap tetap aka berlibur. Sudah penat dengan Jakarta dan ingin rileks sejenak. Begitu yang ada di kepala kami.

Minggu pagi, 10 Maret 2013, kami memulai perjalanan kami dengan menumpang Fajar Utama.

image

Sore harinya kami pun tiba di stasiun yang sama seperti perjalanan liburan kami tahun lalu. Yogyakarta sore itu begitu terik. Meski para tukang becak disepanjang jalan menawari kami tumpangan, kami memutuskan jalan kaki sambil menghirup udara selamat datang di Yogyakarta. Tiba di penginapan di sekitar daerah Tugu, keringat kami bercucuran. Maklum, di Jakarta setiap hari kami biasa mengendarai motor tanpa harus susah payah berkeringat jalan di pedestrian.

image

Kami hanya sementara menginap di sana. Tujuan utama kami adalah Desa Tembi, keesokan harinya. Jelang malam kami berjalan-jalan keliling kota sambil kembali jalan kaki. Makan pecel lele dan tahu penyet kaki lima di jalan Diponegoro yang rasa sambalnya luar biasa enak. Lalu menyusuri jalan Malioboro dan mampir di Mirota Batik untuk cuci mata. Sebelumnya kami juga sempat nonton pertunjukan seni jalanan. Ramai sekali yang nonton dan ratusan pengunjung ikut berjoget mengikuti irama.

image

Selama kurang lebih 4 jam kami kembali ke hotel dengan menumpang becak sampai stasiun tugu lalu jalan kaki. Ditengah perjalanan kami berhenti di depan kantor redaksi koran Kedaulatan Rakyat untuk nyemil angkringan. Kami memilih tempat itu karena kopi jos Lek Man malam itu ramai sekali. Sayang pilihan kami kurang tepat. Tusukannya tidak bisa dibakar dan kopinya kopi hitam biasa. Kecewa.

Kembali ke penginapan, pada tengah malam rekan liburan saya mengeluh kelaparan dan mengajak cari makan di luar. Padahal saya sudah bersiap tidur. Apa boleh buat, dengam mengenakan pakaian tidur dilapis cardigan seadanya ditambah syal, saya keluar kamar. Waktu sudah menjelang pukul 1 pagi, namun kawasan Tugu Jogja masih ramai dipenuhi wisatawan. Mereka sibuk mengabadikan gambar. Celingak celinguk, tak ada becak ataupun taksi yang lewat. Semua tempat makan sudah tutup. Saya jadi ikut berharap ada tempat makan yang buka, tiba-tiba ingin makan mie godok jawa. Sayang setelah berjalan ke sana kemari kami tidak menemukan satu pun pedagang yang masih buka. Akhirnya kami pun ikut latah berfoto di depan Tugu Jogja malam itu.

image

Di dekat Tugu Jogja malam itu saya menemukan satu karya mural dengan gaya kritik pedas ala anak muda yang menurut saya keren. Ini muralnya:

image

Mungkin kalau di Jakarta saya akan was was berjalan kaki tengah malam meski hanya untuk menghirup udara segar. Tapi tidak di Jogja. Malam itu saya dengan santai berjalan-jalan di pedestrian. Melihat para tukang becak melepaa lelah tidur di pinggir-pinggir toko berbagi tempat dengan para tunawisma lainnya. Udara dingin Jogja yang cukup menusuk sampai ke tulang malam itu tak menghalangi istirahat mereka. Tanpa selimut. Hanya dengan kain sarung yang sudah usang usai lelah menggenjot puluhan kilometer hari itu. Ada juga di antaranya yang memilih memadu kasih di dalam becak dengan hanya penutup plastik seadanya. Tampak empat kaki beradu. Mereka tak peduli. Begitupula saya.

Kami kembali ke penginapan dan memutuskan pesan makanan di sana. Ternyata pihak hotel masih menghendaki. Dua piring mie goreng jawa dan dua cangkir teh hangat mengakhiri malam itu. Lalu kami kembali ke kamar masing-masing. Mengisi energi untuk perjalanan ke Desa Tembi esok.

(bersambung)

3 thoughts on “Catatan Perjalanan ke Kota Pelajar

  1. “Lalu kami kembali ke kamar masing-masing. Mengisi energi untuk perjalanan ke Desa Tembi esok”.—>> nggak satu kamar lagi dong, lagi marahan ya..😀

    ke parangtritis sambil diiringi lagunya didi kempot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s