Bang Kumis, Life Must Goes On


Jakarta bakal punya pemimpin baru. Mas Jokowi.

Sejarah itu ditorehkan kemarin, Kamis, 20 September 2012. Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jokowi-Ahok berhasil mengungguli sang incumbent, Fauzi Bowo. Hasil hitung cepat (Quick Count) beberapa lembaga survei menyatakan hal itu. Walaupun KPU DKI baru akan secara resmi menetapkan gubernur DKI terpilih pada 3 Oktober mendatang (hari ini baru saja diklarifikasi oleh KPU DKI, dimajukan jadwalnya menjadi 30 September 2012).

Jokowi-Ahok for Jakarta Baru (FOTO: via Google)

Kemarin, saat Pemilukada putaran dua berlangsung, saya seharian mengikuti kemana Fauzi Bowo melangkah. Sejak pagi saya sudah berada di rumah dinasnya di Jalan Taman Surapati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat. Pagi itu, Foke dan keluarga kompak mengenakan pakaian berwarna putih. Wajahnya sumringah. Foke menerima beberapa tamu penting, salah satunya Hidayat Nur Wahid. Mereka ngobrol dan sarapan bersama jelang pencoblosan. Suasana rumah dinas gubernur pagi itu cukup semarak, tujuh cucunya yang lebih faseh berbahasa Inggris ketimbang Indonesia hadir memberikan dukungan dan semangat kepada Kokongnya. Mereka memberikan sebuah puisi berbahasa Inggris untuk kakek kesayangannya.

Cucu Foke. Left-Right: Syla, Almira, Jameela (FOTO: Pribadi)

Dear Kokong and Nenek. We Love you very much. We want to give you some children support. Here are some pictures we made for you. You are the leaders of the family. You are the role models for everyone. We are so proud. Almira, Syla, Jameela, Rakhsan, Zareef, Aleema dan Sofia.”

Saya juga mengikuti kegiatan Foke berkeliling ke beberapa TPS di Jakarta Pusat dan Utara usai ia memberikan hak pilihnya di TPS 01 Menteng. Saat itu, Foke mengaku menjalankan tugasnya sebagai gubernur DKI, bukan sebagai calon incumbent. Sulit memang bila ada di posisi Foke. Selain harus memastikan penyelenggaraan Pilkada berjalan aman dan damai (sebagai gubernur), ia juga harus berhadapan dengan segala bentuk komentar miring yang menyebutkan dirinya mengambil keuntungan dari dua ‘jabatan’ yang dipangkunya. Dari segi penokohan, tentu Foke kalah jauh dari Jokowi. Foke dikenal sebagai sosok yang ceplas-ceplos, bicara apa adanya, keras dan emosional. Meski tidak bisa dipungkiri, ia orang yang pintar.

Sekitar pukul 15.00 saya dan teman-teman wartawan lainnya sudah berada di markas pemenangan Foke-Nara di Jalan Diponegoro No. 61A, Jakarta Pusat. Di sana, Foke dan Nara akan memberikan keterangan pers terkait hasil quick count. Saat memasuki gerbang, satu hal yang saya tangkap dari suasana di sana adalah sepi. Walaupun masih ada puluhan pendukung Foke yang duduk-duduk di halaman markas, namun dibanding pada putaran pertama lalu, tentu jauh berbeda. Untuk kepentingan penulisan reportase kolom Sorot, saya pun mulai mengamati beberapa hal menarik di sana jelang konferensi pers. Belum ada tanda-tanda kedatangan pasangan nomor urut satu tersebut. Saya mencoba masuk ke dalam kantor media center. Ruangan itu dingin sekali. Sebelum-sebelumnya, pendingin ruangan itu bahkan tak terasa, karena begitu banyak pendukung, tim sukses dan media yang berjubel di sana. Namun, kali ini sepi. Hanya ada Kahfi Siregar, Ketua Media Center, di ruangan itu, yang tengah sibuk mengatur beberapa pewarta media elektronik yang akan melakukan wawancara langsung. Kahfi begitu sibuk, saya hanya menyapanya sebentar, lalu permisi ke toilet.

Saya amati lekat-lekat kegiatan yang berlangsung di dalam sana. Hanya ada dua orang wanita di dalam satu ruangan, berpangku tangan menatap layar komputer. Beberapa orang lainnya hanya duduk-duduk sambil berbicara. Topiknya Pilkada, namun tak menarik untuk saya ‘kupingi’. Saya berjalan kembali ke ruang depan. Empat sampai lima orang sedang duduk di kursi bergagang besi. Mata mereka tak lepas dari layar televisi datar yang terpasang di dinding. Mereka menonton salah satu siaran stasiun televisi yang menayangkan quick count Pemilukada DKI. Jokowi mengungguli Foke hampir 10 persen suara, meski belum 100 persen suara yang masuk. Wajahnya tampak kecewa. Mereka menggelengkan kepala berkali-kali. Beberapa lontaran kalimat kekecewaan keluar dari bibir mereka. Kemudian ditimpali kalimat penyemangat, “Belum. Bismillah.”

Keluar dari ruangan itu, pendukung lainnya melakukan hal yang sama. Dari televisi yang disediakan di halaman depan, mereka pun menonton hasil quick count. Sementara tenda biru megah telah disiapkan di halaman samping bioskop Megaria, untuk kepentingan konferensi pers. Selang beberapa waktu kemudian, puluhan cameramen merubung ke pintu gerbang. Foke datang. Para pewarta berita saling berdesakan mengambil gambar si bang kumis. Saya ikut berdesakan di tengah-tengah mereka, penasaran dengan ekspresinya. Satu lagi perbedaan yang saya rasakan saat itu. Tidak ada sambutan meriah dan elukan-elukan dari para pendukungnya, seperti yang terjadi pada putaran pertama kemarin. Hanya ada suara samar-samar, beberapa mengucapkan salawat Nabi SAW saat Foke tiba. Namun, suaranya tenggelam diantara suara para pewarta berita. Miris sekali. Foke seakan ditinggalkan oleh para pendukung loyalisnya. Bahkan, saat masuk ke dalam markas, petugas keamanan langsung mengunci pintunya. Kami tidak diizinkan masuk.

Ekspresi Foke Saat Konferensi Pers Kekalahan Quick Count. (FOTO: Inilah.com)

Wajah Foke, tak bisa dipungkiri, tak sesumringah tadi pagi. Ia mengawali konferensi pers dengan senyuman terpaksa. Sebelumnya, Kahfi, mengumumkan bahwa tidak ada wawancara setelah konferensi pers ini berlangsung. Semuanya batal. Karena Foke harus menelan kekalahan atas Jokowi dalam hitung cepat perolehan suara. Foke tak biasanya berpidato dengan teks. Kali ini ia melakukannya. Disampingnya, duduk Nara, cawagub pasangannya. Matanya berkaca-kaca. Wajahnya memerah. Pidato Foke harus diakui begitu gentlemen. Ia memposisikan diri kalah secara terhormat. Apalagi yang bisa dilakukannya. Ia pun mengakui sudah mengucapkan selamat kepada lawannya, Jokowi, meski hanya melalui sambungan telepon, bukan secara langsung. Pidato Foke diiringi sorak-sorai konvoi kemenangan Jokowi di depan jalan Diponegoro. Namun, ia tak terpancing. Ia tetap meneruskan perkataan demi perkataan tanpa jeda. Rupanya ia telah mempersiapkan batinnya untuk merima kekalahan.

Saat wartawan dipersilakan untuk bertanya, saya mengangkat tangan. Foke melihat saya, wartawannya yang sehari-hari bertemu di Balaikota DKI, selama dua tahun ini. Ia tersenyum. Saya bertanya mengenai rencananya ke depan, setelah nanti ia dipastikan tidak lagi menjabat sebagai seorang gubernur. Kali ini Foke tidak menjawab pertanyaan saya dengan mata melotot, atau ucapan sekenanya. Ia menjelaskan bahwa akan tetap memberikan kontribusi kepada Jakarta, karena Jakarta merupakan kota kelahirannya. Normatif, namun cukup menyentuh hati jika membayangkan selama dua tahun belakangan ini kita selalu mengikuti kinerjanya kemana pun.

Foke dan wartawan Balaikota DKI. (FOTO: Pribadi)

Akhir September 2010, saya mulai bertugas di Balaikota DKI. Setelah sebelumnya saya lebih banyak mendapat tugas liputan pada desk hukum. Saya buta masalah perkotaan. Hari pertama di Balaikota, redaktur menugaskan saya untuk menanyakan masalah proyek galian di sekitar jalan MH Thamrin untuk penanggulangan banjir yang belum juga selesai. Pembangunan tersebut membuat lalu lintas semakin macet pada jam pulang kerja. Saat itu, Foke baru saja selesai rapat pimpinan. Mendengar pertanyaan saya, dia naik pitam.

“Lo ntar ikut anak buah gue cek ke sono, lo bantuin tuh gali gorong-gorong, ntar lo gue gaji kayak kantor lo gaji lo!”

Saya kaget. Tidak pernah menyangka jawabannya akan seperti itu. Sejak hari itu, sejak saya bertanya kepada dia, selalu tidak pernah dijawab dengan santai. Saya sampai bertanya kepada kawan saya yang anak Tempo, apa yang salah dengan saya. Lalu saya diberi masukan untuk berpenampilan lebih rapi di depan Foke. Awalnya saya ngotot, itu tidak ada hubungannya. Selama ini saya wawancara polisi, jaksa, pengacara, pakai pakaian yang santai, cuma kaos dan celana jeans, yang sedikit sobek, tidak pernah ada masalah. Tapi, ya boleh lah, saya pikir waktu itu, saya coba. Intonasi gaya bertanya pun saya perbaiki. Lebih halus sedikit, mengikuti mood Foke. Agak lama beradaptasi, akhirnya Foke mulai melunak dengan saya. Saya mulai dikenalnya, ia mulai melihat media saya. Jawabannya pun tidak selalu sekenanya saat saya bertanya. Karena sedikit demi sedikit saya pun mulai mempelajari gayanya, moodnya, hingga hal-hal yang membuatnya suka dan tidak suka saya pelajari, saya hapalkan.

Saat Foke kalah pada putaran pertama lalu, saya ingat benar ekspresinya. Lelah. Stres. Banyak beban.

Pagi itu, 11 Juli 2012, Foke menemukan saya menunggunya di depan kediamannya di Jalan Teuku Umar, mengenakan kemeja kotak-kotak. Saat melihat saya di depan pagar rumahnya, ia menunjuk saya. Entah apa maksudnya. Lalu saya melontarkan guyonan, “Eh, maap, pak. Nggak boleh pake baju kotak-kotak ya.” Ia tersenyum.

Usai menyaksikan bersama quick count putaran pertama di markas pemenangannya di Diponegoro 61A, Foke masuk ke salah satu ruangan VVIP yang diperuntukkan khusus untuknya, Nara dan tim suksesnya. Sekitar pukul 21.00 ia keluar. Tampaknya rapat di dalam cukup alot. Saya melihat beberapa kali Nara keluar-masuk dari ruangan tersebut. Saat hendak bertolak dari markas, Foke menyalami para wartawan yang masih menunggunya di ruang tengah markas. Saat melihat saya diantara para wartawan lainnya, ia pun berhenti.

“Kenapa kamu jadi ikutan sedih begitu, non?”

Saya kaget. Tidak ada maksud menunjukkan ekspresi apapun atas kekalahan Foke pada putaran pertama. Namun, memang saya sangat letih malam itu sehingga wajah saya sudah tidak karuan. Saya cuma tersenyum saja mendengar ucapan Foke. Lalu ia meninggalkan tempat. Dan saya pun bertolak pulang ke rumah setelah menyelesaikan tugas saya.

Begitu banyak kenangan selama dua tahun bersama orang nomor satu Jakarta ini. Banyak suka dan dukanya. Banyak momen yang bikin dongkol karena tingkahnya, ada pula beberapa yang cukup bisa dijadikan cerita baik. Semua di dunia ini selalu lengkap, ada yang datang, ada yang pergi, ada yang buruk, ada yang baik, ada kebahagiaan, ada kesedihan, ada kemakmuran, ada kesengsaraan. Semua datang silih berganti. Sejak kecil, sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Foke tidak pernah merasakan berada pada posisi bawah. Tidak pernah susah. Apalagi kalah. Karirnya lancar berjalan selama puluhan tahun di birokrat Pemprov DKI. Kekalahannya pada putaran kedua ini saya rasa benar-benar pukulan telak baginya. Kekalahan pertama, mungkin, dalam hidupnya.

In three words I can sum up everything I’ve learned about life: it goes on.
Robert Frost

4 thoughts on “Bang Kumis, Life Must Goes On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s