Berguru Ilmu Menuju Pemilukada DKI Putaran Dua


Menembus kemacetan pada jam pulang kerja memang tidak mudah. Ini Jakarta. Wajah negara Indonesia.

Ratusan kendaraan berebut mendapat ruang di jalan Sudirman. Jalan protokol ibu kota. Jalurnya para karyawan kantoran yang hendak pulang ke rumah bertemu keluarga mereka.

Pukul 15.00 yang sungguh menyiksa. Tapi saya harus tetap melaju menuju kantor dengan bermodal kuda besi jagoan saya. Naik motor di Jakarta harus cekatan, penuh perjuangan. Kalau tidak, ya terima saja waktumu habis di jalan. Saya ingat perkataan teman saya, Vera Altmeyer, asal Jerman, saat ia tahu saya selama ini menggunakan motor sebagai alat transportasi untuk bekerja sehari-hari. “Saya pasti sudah mati jika saya naik motor di Jakarta,” katanya.

Itu benar. Pemotor di Jakarta itu semuanya sudah sinting. Main terobos jalur busway, menyalip bus kota, dan kalau diserempet mobil, walaupun itu salahnya, tetap pemotor yang lebih galak. Welcome to Jakarta, the capital city of Indonesia🙂

Baiklah, kita kembali kepada tujuan saya menuju kantor sore ini setelah selesai liputan di Balaikota DKI.

Besok, Kamis, 20 September 2012, adalah hari penentuan bagi Jakarta. Pemilukada DKI putaran kedua akan diselenggarakan. Lebih dari 6 juta warga Jakarta akan menggunakan hak pilihnya menentukan nasib ibu kota. Mengutip judul lagu salah satu band Indonesia, Cokelat, “5 Menit untuk 5 tahun.”

Foke VS Jokowi (FOTO: cahayareformasi.com)

Jadi sore ini saya menuju kantor untuk mendapat pengarahan dari guru favorit saya (baca: redpel) terkait peliputan Pemilukada besok. Meski harus rela menembus kemacetan parah, tapi saya selalu bersemangat kalau bertemu dengan orang ini. Dia, Wens Manggut. Redaktur Pelaksana di media tempat saya bekerja. Mantan wartawan senior di Tempo. Ilmunya, jangan ditanya. Cerita pengalaman dia melakukan reportasi investigasi saat masih di Tempo dulu, semuanya fantastis. Saya selalu senang mendengar kak Wens bercerita. Tidak menggurui. Tapi berbagi. Benar-benar guru sejati.

Sampai di lantai 31 gedung Standart Chartered, saya langsung menuju mejanya.

“Sebentar ya, 30 menit gak apa-apa kan menunggu?”

“Siap kak. Di sini aja, atau di bawah?” kata saya sambil senyum-senyum penuh arti.

“Gue udah tahu, lo kalau di sini nggak bisa ngerokok. Ya udah, nanti kita di bawah aja.”

40 menit kemudian kami mulai berbincang berhadapan di satu kedai kopi di lantai dasar gedung kantor. Kami sama-sama pesan cappucinno hangat. Lalu berbagi rokok. Seperti ngobrol dengan kawan. Bukan dengan bos.

Kak Wens membuka percakapan dengan menanyakan lokasi quick count pasangan calon Foke-Nara. Karena besok saya bertugas mengawal pasangan ini, khususnya Foke, dari awal pencoblosan hingga penghitungan suara cepat di Media Centernya. Media saya hendak membuat SOROT. Semacam tulisan reportase panjang dengan tema Pilkada. Saya pun mendengar satu per satu arahan yang diberikan kak Wens kepada saya. Ia meminta saya menitikberatkan reportase pada saat quick count berlangsung. Secara detail.

“Melakukan reportase itu harus sabar. Harus sering berlatih. Lama-lama kamu akan jeli. Perhatikan semuanya dengan seksama, jangan lengah. Karena dari hal kecil, biasanya bisa menjadi pembuka cerita yang besar.” Begitu kata kak Wens. Saya manggut-manggut.

Ia bercerita tentang pengalaman salah satu temannya, wartawan Tempo, saat meliput quick count Pilpres 2004 lalu. Saat itu, temannya itu melakukan reportase di rumah Megawati Soekarnoputri di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Dalam situasi harap-harap cemas menanti hasil penghitungan suara cepat, Taufik Kiemas, suami Megawati, saat itu bolak-balik minum kopi sambil menonton quick count di televisi. Hingga akhirnya kopi di rumah Megawati habis, ludes, nggak tersisa. Kopi bubuk pun tak ada lagi. Bahkan, sampai Taufik membalikkan cangkirnya, menandakan tak ada lagi satu tetes pun kopi di cangkirnya. Akhirnya, dari kejadian itu, muncullah judul ‘Kopi Terakhir di Kebagusan.’ Megawati kalah. SBY maju sebagai Presiden.

Cerita lain yang kak Wens kisahkan kepada saya, yang tak kalah menariknya, yakni mengenai reportasenya untuk edisi khusus majalah Tempo, memperingati satu tahun bencana Tsunami di Aceh. Dalam tulisannya tersebut, kak Wens merekonstruksi para pejabat lingkar atas saat menerima berita bencana besar yang menewaskan ribuan orang tersebut. Dimana keberadaan mereka. Lalu apa langkah mereka selanjutnya.

Menurut cerita dari beberapa wartawan senior lainnya, Kak Wens memang dekat dengan Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI. Kedekatannya itu membuatnya bisa menembus sejumlah kisah menarik dari banyak kasus yang ada untuk kemudian dituangkan ke dalam tulisan reportase semi-feature jagoannya. Ia memulai reportase rekontruksi Tsunami-nya itu dari mulut JK.

“Saya tanya, bapak dimana waktu ada kejadian itu? Dia bilang mau ke acara Halal Bihalal masyarakat Aceh. SBY waktu itu sedang di Nabire. Saat di acara itu dia dapat kabar langsung dari Wakil Gubernur Aceh tentang bencana tsunami itu. Semua orang di sana menangis. JK batal pidato. Cuma 10 menit di sana, JK langsung telepon pilot pribadinya untuk berangkat ke Aceh. Pilotnya itu terima telepon dia saat lagi mandi, dalam keadaan telanjang. JK bilang seperti itu, itu kan cerita yang kecil tapi nggak semua orang tahu. JK juga bilang dia ke Aceh hari itu bawa uang Rp2,5 Miliar, pakai uang pribadi dia dulu, katanya.”

Kak Wens melanjutkan cerita.

Menurut cerita JK, ia pun langsung memerintahkan mantan Menteri BUMN Sofyan Djalil menuju ke Aceh. Esok harinya, Sofyan harus membawa uang Rp 10 Miliar ke Aceh. Menteri Keuangan saat itu tidak menyanggupi.

“Saya wawancara Sofyan Djalil di mobilnya saat dia mau main golf. Saya tanya, gimana pak, sampai akhirnya bisa terkumpul uangnya jam 6 pagi keesokan harinya? Sofyan bilang, ‘Saya ubek-ubek semua bank di Jakarta, dapatnya cuma Rp8 Miliar. Akhirnya itu yang saya bawa ke Aceh.”

Tidak jarang kak Wens juga harus rela menginap berhari-hari di emperan rumah pejabat tertentu untuk mendapatkan informasi eksklusif. Saat Akbar Tanjung tersangkut kasus BULOG, dia bahkan sampai dua hari sabar menunggu, tidur di dekat rumah Akbar.

“Biasanya tengah malam itu orang-orang penting, pejabat-pejabat baru datang. Dan ternyata memang benar, jam 1 malam beberapa orang penting datang ke rumah AKbar Tanjung. Bahkan saya lihat beberapa pejabat cuci piring mereka sendiri di rumah Akbar malam itu setelah selesai makan. Keesokannya, Akbar tahu saya berhari-hari menunggu dia, akhirnya saya boleh satu mobil dengan dia dan keluarganya. Saya pun lihat istrinya menangis di mobil saat Akbar menceritakan kasusnya itu. Saya tanya, boleh ditulis nggak bu? Akhirnya istrinya bilang boleh, tulis saja. Kuncinya ya itu, Tya, kalau mau reportase mendalam, harus sabar untuk bisa dapat cerita yang menarik dan tidak biasa.”

Saya menelan air liur. Kapan saya bisa sampai pada tahap kualitas yang seperti itu? Saya sungguh mengharapkannya. Itu baru namanya wartawan.

Sambil terus mendengarkan kak Wens bercerita sambil diselipi sejumlah pengarahan untuk reportase besok, saya pun menyusun puzzle demi puzzle ide-ide yang muncul dalam benak saya. Untuk bisa menembus tembok sumber Foke kali ini memang agak sulit, saya akui. Apalagi susunan tim sukses Foke, setelah ia kalah pada putaran pertama, berubah cukup signifikan. Orang-orang di lingkaran dalam Foke agak tertutup, dan saya tak punya cukup waktu mendempet mereka. Tapi seharusnya saya bisa melakukannya. Apalagi setelah Pilkada selesai saya akan pindah desk, tentu liputan Pilkada kali ini akan menjadi kenang-kenangan selama dua tahun menjadi wartawan Pemprov DKI. Lima tahun lagi, belum tentu saya masih bisa merasakan euforia ini.

Pertarungan dua pasangan calon sama-sama kuat. Foke dan Jokowi punya massa fanatik masing-masing. Ini baru lawan seimbang.

Baiklah. Cerita kak Wens cukup membakar semangat saya untuk melakukan reportase esok hari. Sabar, itu kuncinya.

Sampai jumpa besok. Selamat berjuang untuk teman-teman wartawan yang meliput Pilkada. Untuk warga Jakarta, jangan golput ya. Manfaatkan hak pilih kalian. 5 Menit untuk 5 tahun😉

Try not to become a man of success but a man of value.
Albert Einstein

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s