Mencari Kang Jalal Syi’ah


Liburan pasca Lebaran memang memabukkan.

Setelah menghabiskan tiga hari berlibur di Semarang bersama seorang kawan baik, Senin lalu saya harus kembali bekerja. Beruntungnya koordinator liputan menjadwalkan saya piket malam selama satu minggu. Dengan begitu, pada Senin pagi, saat baru tiba di Jakarta setelah 11 jam diperjalanan, saya bisa beristirahat untuk kemudian kembali menjalani rutinitas kerja.

Hari pertama kerja, cukup jetlag, karena saya cuma di kantor saja menelpon beberapa narasumber sambil sibuk mengedit foto-foto liburan di Semarang. Lalu kemarin siang saya kembali ke Balaikota, bertemu dengan teman-teman terbaik di pressroom. Semacam halal bihalal. Dan malamnya saya berjibaku dengan RUUK DIY di Komisi II DPR sampai dini hari.

Seperti pagi sebelumnya, hal pertama yang saya lakukan setelah bangun tidur adalah mengecek Blackberry. Rutinitas wajib yang saya lakukan selama dua tahun ini. Sepertinya hidup saya cukup bergantung pada benda ini, karena informasi pekerjaan dan pertemanan hampir semua terakses dari sana. Ada beberapa pesan Blackberry Messenger yang masuk, salah satunya dari Koordinator Liputan, yang berisi agenda liputan malam ini. Ternyata saya mendapat perintah untuk mewawancarai tokoh Syi’ah, Jalaluddin Rakhmat, dikediamannya malam ini, yang bertepatan dengan perayaan miladnya.

Setelah mengumpulkan nyawa, setengah jam kemudian saya pun mengeluarkan si tosca (sebutan untuk notebook saya, hehe) dan mencolokkan modem smartfren milik kakak saya. Teknologi sudah berkembang sedemikian pesatnya, mbah google kerap jadi andalan untuk bisa mengumpulkan begitu banyak informasi.

Saya pun mengetik: Jalaluddin Rakhmat.

Dilanjutkan dengan: Kang Jalal (begitu Jalaluddin biasa disapa).

Dan tak lupa membubuhkan kata ‘Syi’ah’ di belakangnya.

Sederet informasi tentang Kang Jalal muncul. Saya membacanya satu persatu.

Jalaluddin Rakhmat (FOTO: google.com)

Informasi pertama yang saya peroleh tentang beliau, Kang Jalal adalah Ketua Dewan Syura IJABI, atau Ikatan  Jamaah Ahlulbait Indonesia, organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia. Pada laman http://www.tokohindonesia.com saya pun mendapatkan informasi bahwa beliau adalah seorang tokoh pluralisme, dosen dan juga penulis.

Well, oke. Sejauh itu belum cukup memuaskan rasa ingin tahu saya. Penggalian informasi terus dilakukan, termasuk informasi sejarah aliran Syi’ah di Indonesia. Ini saya lakukan, agar saat melakukan tugas jurnalistik nanti, saya bisa meminimalisir kesalahan saat wawancara. Tentu saya tidak ingin tampak bodoh dihadapan narasumber saya nanti. Sambil harap-harap cemas, semoga kali ini situasi tidak seperti pengalaman saya sebelumnya saat hendak mewawancara si raja dangdut Rhoma Irama (baca blog saya sebelumnya yang berjudul ‘Bang Rhoma, Sungguh TERLALU!)

Konflik di Sampang, Jawa Timur, kembali bergejolak beberapa waktu lalu. Syi’ah dan Sunni kembali disebut-sebut dalam konflik yang sudah cukup lama terjadi ini. Konflik ini memang bukan cuma terjadi di Indonesia, tapi setahu saya, sudah sejak jaman Nabi ini terjadi. Berdasarkan laman Wikipedia, disebutkan bahwa Syi’ah ialah salah satu aliran atau mahzab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

Banyak hal tentang ajaran Syi’ah yang masih simpang siur. Penganut aliran ini dikatakan tidak melakukan Shalat Jumat seperti muslim lainnya. Mereka disebut-sebut juga hanya menjalani shalat tiga waktu. Ada tambahan ayat lain dalam adzan mereka. Bahkan, mereka dituding hendak membangun negara sendiri. Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari syiahali.wordpress.com, Anggota Dewan Syuro IJABI, Muhammad Bagir, menjelaskan tiga penyebab konflik Sunni-Syi’ah di Indonesia. Pertama, karena fanatisme yang berlebihan dan kedua karena kurang informasi yang sempurna yang diterima oleh masyarakat. Ketiga, ada kelompok-kelompok tertentu yang memang sengaja melontarkan fitnah-fitnah terhadap kelompok-kelompok tertentu dan menggunakan massa yang banyak, sehingga terjadilah konflik horisontal di bawah.

Bagir pun mengatakan, “Sebenarnya perbedaan Sunni dengan Syiah hanya perbedaan di sebuah pemikiran saja, Allah-nya sama, nabinya sama, Qur’an-nya sama, semuanya sama. Hanya berbeda dalam memahami objek-objek itu, hanya sebuah pemikiran saja perbedaannya.”

Saya pun membaca beberapa bagian dari tulisan Kang Jalal dalam bukunya yang berjudul ‘Catatan Kang Jalal’  yang diterbitkan PT Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan kedua, April 1998. Dalam salah satu bagian, ia mengakui bahwa definisi atau identifikasi tentang Syi’ah di Indonesia itu masih kabur.

Buku Catatan Kang Jalal (FOTO: google.com)

Semakin menarik untuk digali. Semoga keberuntungan memihak saya malam ini untuk bertemu dan berbincang langsung dengan Kang Jalal.

Jagad Guru: “Hatred and conflict are often rooted in differences between people of different races and religions. We all need to respect people of different races as well as people of different faiths and religions. We need to unite by recognizing our common desire and need for a harmonious society — a society in which we and our children and families and friends and communities can all live our lives in peace and harmony. Regardless of our race or religion, we all want and need such social harmony.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s