Being a Journalist Isn’t My Dream


Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin. How’s Lebaran?

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, makna Lebaran bagi saya kali ini lebih kepada memaafkan diri sendiri. Bukan cuma minta maaf kepada orang lain, tapi saya pikir kita juga perlu memaafkan diri sendiri dari segala kebencian, kemunafikan, kedengkian dan semua hal yang buruk yang pernah kita lakukan selama hidup. There is a Yang in every Yin, right? 

Baiklah. Sebenarnya saya agak bingung ingin menulis apa. Tapi saat membuka draft blog, ternyata ada satu tulisan yang belum sempat diposting. Maybe, it’s kinda boring. Ini cerita saya tentang kenapa akhirnya saya masuk ke dunia jurnalistik. Perjalanan yang menurut saya sepertinya sudah digariskan oleh Tuhan dan tidak pernah saya impikan sebelumnya. Cuma ingin share saja, karena rupanya mimpi itu tidak selamanya sama, dan seringkali kita sebagai manusia berubah pikiran untuk menentukan masa depan.

Wanna read my story? Monggo mas dan mbak🙂

Ilustrasi (FOTO: anneahira.com)

Apakah menjadi wartawan adalah impianmu?

Pertanyaan itu beberapa kali dilontarkan oleh beberapa orang kepada saya. Bahkan diri saya sendiri.

Apa iya profesi ini impian saya? 

Sejujurnya, bukan.

Lulus dari Sekolah Menengah Atas, saya punya sebuah impian. Bukan masuk perguruan tinggi favorit. Bukan mengejar PMDK atau SPMB. Bukan menjadi mahasiswa biasa. Tapi, saat itu saya ingin sekali masuk Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Tak banyak yang tahu impian lampau saya ini, namun banyak yang bilang impian saya itu gila. Bahkan orang tua saya habis-habisan melarang saya untuk ikut mencoba tes ujian masuk ke STPDN.

Praja IPDN (FOTO: Poskota.co.id)

STPDN memang menorehkan catatan hitam dunia pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2003, saat saya kelas 2 SMA, siswa Praja STPDN Wahyu Hidayat tewas dianiaya sembilan seniornya. Preseden buruk itu melekat kuat pada ingatan orang tua saya, dan tentunya khalayak luas. Kala itu media menyiarkan berita peristiwa nahas itu secara berkesinambungan. Satu per satu borok STPDN, yang kini berganti nama menjadi IPDN, dilucuti habis-habisan.

Saya takut. Namun entah mengapa saya tak gentar untuk ingin menembus rasa ketakutan saya itu dengan tetap bersikeras mewujudkan impian saya masuk STPDN. Tahun itu pula, saya menjalani pelatihan sebagai Paskibraka tingkat Walikota Jakarta Timur. Dengan latihan yang cukup keras, digembleng habis-habisan selama tiga bulan, dikarantina, menuntut kedisiplinan tinggi, saya semakin yakin mampu menjalani hari-hari saya nanti bila jadi masuk STPDN. Setelah rampung menjalankan tugas sebagai Paskibraka dan resmi menjadi Purna Paskibraka Indonesia, tekad saya semakin kuat. Namun apa lacur, ibu saya tak mengikhlaskan anak bungsunya melangkahkan kaki ke Bandung, Jawa Barat.

“Buat apa punya seragam bagus, langkah tegap, kalau ujung-ujungnya cuma jadi ajudan Bupati harus rela digebukin dulu? Orang tua mana yang rela anaknya disiksa. Yang perempuan katanya diperkosa. Pokoknya mama tidak setuju!”

Kira-kira begitu ucapan ibu saya kala itu.

Tahu saya punya keinginan yang menggebu untuk bisa masuk STPDN, tetangga depan rumah yang merupakan seorang PNS sempat menawarkan bantuan kepada saya untuk bisa ikut tes. Setelah saya pikirkan, pertimbangkan masak-masak, akhirnya saya luluh juga. Saya putuskan untuk tidak mengikuti ego saya dan menurut perkataan ibu saya. Toh, tanpa doa dan ridho dari orang tua, kesuksesan tak akan saya capai.

Selesai dengan masalah STPDN, kemudian saya masuk kepada penentuan masa depan lainnya. Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah usai. Saya tidak punya hasrat lagi untuk mengikuti rangkaian tes perguruan tinggi negeri. Dengan kemampuan ekonomi orang tua saya yang terbatas, saya dipaksa untuk memahami kondisi tersebut. Hingga akhirnya, kakak saya membawa kabar tentang perguruan tinggi swasta dengan jurusan yang kemungkinan besar akan saya suka. Ia bilang, ada kawan SMA-nya yang kuliah di sana sambil bekerja. Waktu itu saya pikir, “Wow, kuliah sambil bekerja kedengarannya keren.”

Jujur saat daftar ulang di Kampus Tercinta IISIP Jakarta, tahun 2005, saya tidak paham benar dengan jurusan yang saya ambil. Sampai pada saat petugas administrasi melontarkan pertanyaan kepada saya, “Mau jadi wartawan ya, dik?” Saya terdiam. Apa iya saya mau jadi wartawan? Saya suka sekali menulis. Waktu SMA saya suka sastra. Selain STPDN, impian terpendam saya lainnya adalah masuk jurusan Sastra Indonesia. Saya ingin menulis buku, ingin jadi penulis. Tapi untuk jadi wartawan, waduh, tidak pernah terpikirkan.

Namun dunia perkuliahan mengubah hidup saya drastis. Ini mungkin yang namanya mengikuti alur kehidupan yang sudah digariskan Tuhan. Kemandirian datang dengan sendirinya. Integritas diri tumbuh dengan sendirinya. Ternyata akhirnya saya jatuh cinta dengan program kuliah saya, jurnalistik.

Saya kemudian bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (Himajur) di kampus, dan kegiatan ini cukup mendorong minat saya untuk lebih serius di bidang jurnalistik. Pada semester 4 perkuliahan saya menjalani Praktik Kerja Lapangan di salah satu media cetak nasional. Pertama kali terjun langsung ke lapangan. Meliput peristiwa demi peristiwa. Mulai dari aksi demonstrasi, penculikan, hingga kebakaran. Perjalanan Depok menuju Kedoya, Jakarta Barat, selama kurang lebih 2,5 jam dilalui tanpa mengeluh. Belum lagi setiap hari harus siap dengan penugasan liputan kemana pun. Paling jauh dari Kedoya saya pernah disuruh meliput peristiwa penculikan anak sampai ke Bekasi. Kalau dipikir-pikir, kuat juga saya saat itu. Cuma semangat yang bisa membuat saya bertahan selama dua bulan seperti itu. Apalagi saat itu saya masih naik-turun angkutan umum. Ongkosnya seringkali bikin kantong bolong, dan cuma mampu beli aqua gelas saat lelah liputan.

Perjuangan saya saat PKL ternyata membuahkan hasil. HRD Media Indonesia kemudian menghubungi saya untuk ikut tes calon reporter koran edisi siang. Mereka mencari carep mahasiswa. Tadinya saya ragu untuk ikut, karena baru saja saya mengemban tanggung jawab untuk memimpin Himpunan Mahasiswa. Kalau saya bekerja nanti, apa jadinya program kerja HIMA tanpa saya? Namun dosen saya yang juga redaktur di Media Indonesia, mendorong saya untuk mencoba tes itu. Akhirnya, berangkatlah saya kembali ke Kedoya menjalani serangkaian tes.

Awal tahun 2008 saya mengawali pekerjaan pertama saya menjadi wartawan. Meskipun masih mahasiswa, dan berstatus calon reporter, saya digaji sangat cukup saat itu. Jam kerjanya jangan ditanya. Karena itu koran siang, saya mulai bekerja pukul19.00 dan selesai saat adzan subuh berkumandang. Dari gaji yang saya dapat, saya bayar sendiri uang kuliah saya, dan memberikan sedikit kepada orang tua sebagai tanda bakti saya sebagai anak. Sisanya saya menyewa kos tepat di samping tembok kampus. Tujuannya agar saya tidak kesiangan saat harus berangkat kuliah. Karena otomatis jam tidur saya berkurang. Pulang kerja, sampai di kos pukul 07.00, dan saya harus masuk kelas pukul 10.30 hingga sore. Lalu lanjut bekerja lagi saat malam hari. Ditambah, prestasi saya sebagai mahasiswa tidak boleh turun, karena itu syarat mutlak beasiswa yang diberikan kampus kepada saya. Selama 7 bulan saya menjalani hari-hari seperti itu. Hingga akhirnya tumbuh rasa tanggung jawab yang besar atas masa depan diri saya sendiri.

Tim Media Indonesia edisi Siang 2008 (FOTO: pribadi)

Banyak mahasiswa yang orang tuanya mampu, namun mereka justru menyia-nyiakan keberuntungan mereka dengan tak acuh pada program kuliahnya. Tapi salah jika orang-orang menilai saya mengeluh dengan rutinitas saya kala itu. Justru saya bahagia bisa punya pengalaman kerja lebih dini, membayar uang kuliah dengan hasil keringat sendiri, dan tentunya semua pembelajaran itu menumbuhkan kepribadian saya. Saya tidak kehilangan masa bermain dengan teman-teman seumuran meski sibuk kuliah sambil bekerja. Saya pun masih tetap aktif berorganisasi di kampus. Bahkan, saya masih sempat ikut aksi demostrasi mahasiswa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak kala itu di depan Istana Negara.

Setelah tak lagi bekerja di Media Indonesia edisi siang, saya mendapatkan tawaran bekerja di majalah kuliner. Lagi-lagi saya menikmatinya. Saya butuh uang untuk membayar kuliah, dan saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya. Saya bersyukur, Tuhan selalu melancarkan jalan saya hingga akhirnya saya lulus kuliah pada tahun 2009 dengan hasil baik. Tahun itu pula saya kembali mulai bekerja sebagai wartawan di sebuah media online.

Menjadi wartawan memang bukan impian saya. Tidak pernah ada dalam pikiran saya untuk bisa menekuni profesi ini. Namun, kini dunia ini menjadi hidup saya.

“Dreams are extremely important. You can’t do it unless you imagine it.”
— George Lucas 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s