Bang Rhoma, Sungguh TERLALU!


Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan.

Saya kira semua orang juga setuju akan kalimat itu. Apalagi bagi kalian yang memiliki profesi sebagai pewarta berita. Tak jarang kegiatan membosankan seperti menunggu dilakoni hampir setiap hari. Saat meliput di pengadilan, menunggu proses peradilan dimulai bukan hal yang baru. Ngaretnya bukan main, bisa berjam-jam. Meliput di gedung cicak (baca: KPK) juga begitu. Menunggu saksi atau tersangka korupsi datang di tangga depan lobi yang kalau malam anginnya super ‘semilir’ dan kerap bikin masuk angin.

Tapi hari ini, saya bukan sedang mendapat tugas meliput di pengadilan, KPK atau pun kantor KPU DKI yang akhir-akhir ini sering saya tongkrongi. Ingat kejadian dua hari lalu, saat Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI memanggil Raja Dangdut Rhoma Irama untuk meminta keterangan terkait ceramahnya di mesjid Al Isra, Jakarta Barat, yang diduga bermuatan SARA? Hari itu si raja beristri ‘banyak’ ini mendadak jadi trending topic, berkat ledakan tangisannya saat jumpa pers sebelum menjalani pemeriksaan di kantor Panwaslu. Oh well, dia terlalu ‘jantan’ untuk bisa menangis sesengrukan seperti itu.

Rhoma Menangis (FOTO: Herudin/Tribunnews)

Malam itu, saya kira bukan cuma kantor media tempat saya bekerja yang mendadak heboh. Semua kantor media sibuk me-running berita sang raja dangdut meneteskan airmata, setelah sebelumnya ia pernah membuat si ratu goyang Inul Daratista disorot ratusan kamera menangis pedih atas hujatan Rhoma. Keesokan malamnya, benar saja, saya menerima pesan singkat via blackberry messenger untuk menjadwalkan wawancara khusus dengan bang haji, sapaan Rhoma Irama. Akhirnya saya menelpon telepon selular Rhoma dan juga sekretaris pribadinya yang bernama Luthfi. Tercetuslah hari Rabu, 8 Agustus 2012, ba’da dzuhur, pukul 13.00 untuk mewawancarai Rhoma di kediamannya di Jalan Pondok Jaya VI no. 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pagi tadi, TOR wawancara langsung di-email koordinator liputan. Pukul 10.15 saya sudah tiba di kantor. Suasana kantor riuh, sibuk berkomentar mengenai rencana pertemuan saya dengan bang haji.

“Weq, harusnya lo pake jilbab ketemu sama dia.”

“Hati-hati diajak kawin.”

Lalu saya timpali dengan gak kalah nyelenehnya,”Tadinya gue mau pake baju kaftan Syahrini. Tapi akhirnya pake seragam aja deh, abis baju gue yang gak vulgar ini doang. Bulan puasa gak boleh mengundang syahwat, kata bang haji.”

Seisi kantor tertawa. Saya sibuk cengar-cengir.

Lalu sekitar pukul 11.20 saya dan koordinator liputan saya berangkat. Fotografer kami menunggu di sana. “Nanti ada anak ANTV juga di sana, biar bang haji seneng, di shoot kamera,” kata mas Ismoko, korlip saya. Saya tertawa.

Tiba di kediaman Rhoma sekitar pukul 12.10. Kru ANTV dan fotografer kami sudah lebih dulu tiba. Saya pun menghubungi sekretaris Rhoma, mengabarkan kami sudah sampai di lokasi. Melalui pesan singkat ia mengatakan, “Ya, mbak Tya. Mohon maaf saya tidak bisa mendampingi, karena ada tugas lain, thanks.”

Kediaman Rhoma Irama (FOTO: via blackberry dheweq)

Well, oke, gak masalah. Yang penting saya jadi wawancara si raja dangdut.

Dari reporter ANTV bernama Arif, saya pun mendapat kabar bahwa pukul 13.00 ternyata Rhoma harus menuju studio Trans 7 untuk taping program ‘Bukan 4 Mata.” Saya pun kaget. Lho, gimana sih, kan sudah janjian mau wawancara. Tapi kemudian korlip saya mendapat kabar dari salah satu pesuruh rumah Rhoma bahwa tuan rumahnya baru shooting di sana pukul 14.00. Yah, masih ada waktulah kalau begitu.

Menunggu. Menunggu. Dan menunggu.

Kami tidak disuruhnya masuk. Hanya dibiarkan gelosoran di teras rumahnya yang tidak begitu luas. Hanya beralaskan lantai keramik yang dingin. Cuaca begitu panas di luar. Kami semua yang ada di sana sedang puasa. Saya memutuskan tiduran di atas lantai sambil memejamkan mata. Tidur sebentar sepertinya gak masalah. Sekitar 15 menit saya terbangun. Korlip saya berkelakar, “Udah mimpi wawancara Rhoma Irama lu, ya.” Kami tertawa.

Satu jam setengah sudah. Bang haji tak kunjung ada tanda-tanda keluar dari rumahnya. “Kemana pulak orang ini?” pikir saya.

Sepuluh menit kemudian Rhoma keluar. Ia mengenakan kemeja hitam dengan kancing terbuka hingga memperlihatkan bulu dadanya, yang sudah gak se-seksi bulu dada anaknya, Ridho Rhoma. Saat melihat kami yang sudah menunggu sejak tadi, tatapannya kurang bersahabat. Rhoma kemudian mengatakan kalau tidak bersedia diwawancara oleh ANTV. Alasannya, televisi suka memelintir beritanya, terutama terkait kasus yang saat ini tengah menjeratnya. Berkali-kali dilobi, Rhoma tetap tak bersedia.

Saat korlip saya menanyakan bagaimana dengan VIVAnews, Rhoma sejenak terdiam berpikir. “Wawancara di studio Trans saja deh,” ucapnya singkat.

WHAT?! Enak banget jawabnya! Saya kaget, enteng sekali ya bisa memutuskan sepihak begitu.

Berkali-kali dijelaskan, bahkan dengan iming-iming wawancara sebentar sekitar 15-30 menit saja, Rhoma enggan. Dia malah menjawab, “Kalau begitu kita re-schedule saja.”

“BRENGSEK!” umpat saya dalam hati.

Lalu Rhoma masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan kami begitu saja.

Iya, dia ‘kabur’ begitu saja setelah membuat kami menunggu dia 1,5 jam, tanpa mempersilakan masuk ke dalam rumahnya yang gak bagus-bagus amat itu, Hebat ya si raja dangdut ini memperlakukan wartawan.

Sambil menunggu taksi datang, korlip saya yang juga dongkol bilang, “Udah lah, gak usah pake re-schedule segala. Ngapain wawancara orang kayak gitu!” Saya sepakat.

Sambil ngedumel di depan rumah Rhoma, duduk di pinggir got bersama korlip, saya bilang, “Dulu gue juga wawancara khusus Hercules. Hercules lho! Preman! Dia gak kayak gini perlakuannya. Dia lebih menghargai gue sebagai wartawan. Dia tepat waktu. Ini apa? Katanya Haji, penceramah, mubalig, tai kucing!”

Habis sudah pahala saya hari ini. Puasa saya cuma menahan lapar saja gara-gara kelakuan si bang haji. Ahhhh…… absurd tu orang!

Inti dan pembelajaran yang saya dapat hari ini adalah mau dia pemuka agama kek, orang terpandang kek, kalau sikapnya tidak menghargai orang lain, gak salah kalau di cap sebagai orang yang munafik. Dalam dakwah ia selalu melontarkan ayat-ayat suci, mengimbau umat Islam untuk berprilaku baik, nyatanya prilakunya sungguh buruk. Sungguh TERLALU.

George Bernard Shaw
It is dangerous to be sincere unless you are also stupid.

2 thoughts on “Bang Rhoma, Sungguh TERLALU!

  1. bang haji, saya kan cantik. masak gak mau sih diwawancarai..nanti saya nyanyi sebuah lagu:

    Wanita:
    Pertemuan yang kuimpikan kini jadi kenyataan
    Pertemuan yang kudambakan ternyata bukan khayalan

    Pria:
    Sakit karena perpisahan kini telah terobati
    Kebahagiaan yang hilang kini kembali lagi

    Duet:
    Pertemuan yang kuimpikan kini jadi kenyataan
    Pertemuan yang kudambakan ternyata bukan khayalan

    Wanita:
    Rindu yang selama ini sudah membeku

    Pria:
    Mencair diterpa cinta dalam senandung

    Wanita:
    Cinta yang selama ini sudah menggunung

    Pria:
    Tercurah sudah penuh dengan kemesraan

    Wanita:
    Tak ingin lagi berpisah

    Pria:
    Cukup sekali berpisah

    Wanita:
    Tak ingin lagi merana

    Pria:
    Cukup sekali merana

    judulnya: pertemuan.

    xixixix

  2. hadeeehh… gak ngerti gue cup lagu-lagunya si bang haji.. yg gue ngerti cuma rambut dia yg kaku kayak sapu ijuk lapuk plus bulu dadanya yg udah harus di rebonding gara2 udah menua, hahahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s