Kopi Malam Berujung Cerita Islam di Nepal


Setelah selesai hadir di acara buka puasa bersama PT MRT Jakarta di Hongkong Cafe, Thamrin, bareng teman-teman wartawan Balaikota, saya memutuskan bertemu dengan seorang teman. Teman baru yang cukup spesial. Kami baru saja berkenalan sekitar satu bulan lebih, sejak sibuk meliput Pilkada DKI putaran pertama. Vera Altmeyer namanya. Cewek keturunan Jerman yang sejak tahun lalu memutuskan tinggal di Copenhagen, Denmark. Vera sudah beberapa kali ke Indonesia, sehingga bahasa Indonesianya cukup lancar. Usianya dua tahun lebih tua dari saya. Saat ini sedang menempuh pendidikan di NIAS – Nordic Institute of Asian Studies, PhD student. Dia melakukan penelitian tentang kampanye calon gubernur DKI, khususnya untuk calon incumbent Fauzi Bowo dan Joko Widodo.

Me and Vera. At Beer Garden, SCBD.

Singkat cerita, malam ini Vera ingin ditemani makan malam, sebelum dia berangkat liburan bersama pacarnya ke Bangkok, Thailand, lusa nanti selama dua minggu lebih. Bakoel Koffie Cikini menjadi tempat favorit kami bertemu untuk ngobrol, alasan lainnya WiFi disana cukup bagus untuk Vera ber-Skype-ria dengan pacarnya, Thomas. Sambil makan spagethi carbonnara kesukaannya Vera dengan semangat memamerkan kepada saya foto-foto pacarnya yang saat ini tengah berlibur di Nepal. Dia bercerita, Thomas disana sudah satu minggu bersama teman kuliahnya yang orang asli Nepal. Saat melihat foto-foto hasil jepretan Thomas, saya sungguh takjub. Indah banget pemandangannya. Gunung, bukit, sawah, sungai yang airnya super jernih, orang-orangnya yang mirip sekali dengan orang India, semuanya. “Aku suka lihat foto dia (Thomas) disini. Dari senyumannya Aku bisa lihat, dia bahagia sekali di sana,” kata Vera.

foto jepretan Thomas di Nepal (via facebook)

Asyik bercerita tentang Nepal, saya ikut semangat dan mengatakan ingin sekali ke sana suatu hari nanti. Nepal adalah negeri seribu kuil, Nepal dan Himalaya adalah dua hal yang saling berkaitan yang selalu diingat dunia. Mount Everest ada di sana. Lalu kemudian Vera berkata, “Tapi orang Islam (muslim) sangat dibenci di sana.” Saya kaget. Wah, apa iya segitunya?

Sambil menyesapkan ice cappucinno ke sela-sela bibir, saya mendengarkan cerita Vera dengan seksama. Dia bilang, pacarnya pernah sempat disangka orang Arab yang notabene identik dengan muslim oleh teman-teman, temannya, yang tinggal di Nepal. Waktu itu, teman kuliah Thomas memposting foto mereka berdua di facebook. Lalu muncul beberapa comment dari temannya, teman Thomas di Nepal, yang mengatakan (kira-kira) “Hei, kamu berteman dengan orang muslim di sana (Denmark)?”

Wajah Thomas memang sedikit mirip dengan orang Arab. Saya juga baru menyadarinya saat Vera bilang itu kepada saya. Mungkin karena wajahnya bulat dan punya berewok yang dibiarkan tumbuh. Padahal Thomas orang Jerman. Hmm, saya jadi penasaran, sejarah apa yang membuat orang-orang Nepal membenci orang muslim. Vera menceritakan sedikit dari pengetahuan yang dia punya. Tapi saya tidak cukup puas. Sampai di rumah saya penasaran dan mulai memanggil paman google soal itu. Soal sejarah Islam di Nepal.

Hal pertama yang saya peroleh dari paman google adalah di negeri dengan penduduk mayoritas Hindu ini, Islam hadir sejak lebih dari 480 tahun yang lalu. Di kota Kathmandu kini berdiri dua masjid besar bersejarah yang lokasinya berada di kawasan bergengsi dipusat kota Kathmandu, ibukota Nepal,  tak jauh dari (bekas) Istana Raja Nepal. Dua masjid besar tersebut adalah Masjid Kashmiri Taqiya dan Jama Masjid Kathmandu. Dua masjid berada di kawasan yang sama dan hanya terpisah beberapa blok bangunan.

peta Nepal (via google)

Secara garis besar muslim Nepal dibagi ke dalam 4 etnis besar masing masing adalah Muslim India, Khasmir (Khasmiri), Tibet (Tibetan) dan Muslim asli Nepal (Nepali). Selain itu masih ada lagi muslim Nepal gunung yang memang tinggal di kawasan pegunungan, mereka merupakan keturunan dari orang tua campuran dan rata-rata merupakan keturunan dari ibu yang merupakan orang Nepal gunung.

Islam pertama kali diperkenalkan di Nepal oleh para saudagar Arab di abad ke 5 Hijriah/11 Masehi yang datang ke lembah Kathmandu untuk berniaga. Setelah itu sebagian tentara muslim dari pasukan Ikhtiyar Uddin Muhammad bin Bakhtiyar Khilji yang menginvasi Tibet di tahun 1206 pernah menjejakkan kaki di Nepal untuk beberapa waktu, Ikhtiyar Uddin  (Ikhtiyaruddin) adalah panglima pasukan Sultan Qutb uddin Aybak dari Kesultanan Delhi, yang menguasai kawasan barat laut India berpusat di Delhi.

Sejak memasuki Nepal ratusan tahun lalu, kaum Muslim harus mengikuti aturan-aturan non-Islam dalam berbagai hal.  Islam adalah agama minoritas ketiga di negeri yang memiliki Gunung Everest itu.  Nepal menjadi rumah bagi sekitar 1,23 juta kaum Muslim atau 4,2 persen dari total populasi. Umat Islam diperbolehkan menjalankan keyakinan agamanya dengan sejumlah pembatasan yang diberlakukan kerajaan. Selain masih menghadapi berbagai pembatasan, Muslim di Nepal pun masih dihadapkan pada islamofobia dan serangan dari kelompok ekstremis.

muslimah di Nepal (republika.co.id)

Pada 26 September 2011 lalu, misalnya, Sekretaris Jenderal Organisasi Islam, Islami Sangh, Faizan Ahmad, meninggal dunia setelah diberondong senjata api oleh dua orang tak dikenal. Tak lama sebelumnya, seorang Muslim yang juga pengusaha media bernama Jamin Shah juga dibunuh. Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas Kristen dan Muslim memeng kerap menjadi target aksi kekerasan dari kelompok Hindu radikal. Pada 26 April 2008, di Birabtnagar, sebuah serangan menghancurkan sebuah masjid dan menewaskan dua orang dan puluhan terluka. Setahun kemudian, di bulan yang sama, sebuah bom di Gereja Katedral Katolik Kathmandu menewaskan tiga orang. Kebencian secara spesifik juga pernah ditujukan kepada Muslim Nepal setelah terjadi pembantaian 12 orang Nepal yang bekerja di Irak. Pembantaian itu menimbulkan sentimen anti-Islam dan anti-Arab di Nepal. Menyusul peristiwa itu, pada 1 September 2004, Masjid Jami’ yang terletak di jantung Kota Khatmandu dibakar massa.

Bahkan beberapa waktu lalu komunitas muslim Nepal menuntut pemerintah untuk dilibatkan dalam penggodokan konstitusi baru. Muslim Nepal sempat mengancam apabila tidak dilibatkan maka akan turun ke jalan pada 21-22 Mei 2012 silam. Tuntutan itu tidak semata hanya karena masalah keteribatan Muslim dalam konstitusi. Belakangan, komunitas Muslim melihat ada upaya yang mengancam keharmonisan kehidupan beragama di negara tersebut. Hal itu tercermin dalam perlakuan diskriminasi terhadap Muslim. Hingga akhirnya Pemerintah sepakat untuk mengakui identitas muslim di Nepal.

***

Ya kira-kira itu gambaran sejarah dan perjuangan hidup masyarakat muslim di Nepal. Cukup membuka mata saya bahwa sejarah, budaya dan politik bisa membawa kehidupan beragama terkekang. Nepal negara yang indah, dengan kekayaan alam yang diberkahi sang pencipta. Sayang saudara-saudara muslim kami tak memperoleh hak hidup layak di sana. I pray for you all, dear moslem people in Nepal.

“When my heart is at peace, the world is at peace.”
Chinese Proverb

3 thoughts on “Kopi Malam Berujung Cerita Islam di Nepal

  1. aku suka kamu menulis begini,,kelihatan cantik jadinya, wkwkwk.. (gombal). terus menulis ya. membaca membaca dan membaca biar banyak ide.

    critamu ini, juga akan lebih baik lagi kamu mengenalkan kepada teman bulemu itu tentang islam, siapa tahu dia malah menyukai islam. dan kamu mendapatkan pahala kan..🙂 dan terpaksa kamu akan belajar lagi hehehe.,,semoga kamu bisa memberikan informasi yang baik sama si vera. sepertinya orangnya menyenangkan ya.

    btw, kamu beberapa teks ambil sini ya:

    http://chikupunya.multiply.com/journal/item/250/Islam_di_Nepal_Berkembang_dalam_Keterbatasan_?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

    sama:

    http://www.facebook.com/notes/rindu-masjid/islam-di-nepal/388702044520084

    kasih sumber aslinya kayak foto-fotomu, biar tulisanmu makin cantik dan seksi, seperti dirimu..#eaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s