Ibu ‘Kembar’ dan Strategi Pemenangan


ilustrasi misa di gereja (FOTO: google.com)

Hujan mengguyur kawasan barat ibu kota malam itu. Jejak-jejak kaki setengah basah menempel pada lantai gereja kecil di lingkungan kampung Glodok. Rumah Tuhan itu begitu sederhana namun tertata indah meski untuk mencapainya harus rela masuk ke pelosok gang-gang sempit. Bau cat cukup menusuk hidung saat langkah kaki pertama memasuki ruang misa yang mampu menampung sekitar seratus jemaat itu. Misa belum dimulai, beberapa jemaat mengobrol santai dengan suara pelan, sisanya membaca alkitab. Meski kawasan Glodok identik dihuni oleh mayoritas warga etnis tionghoa,tak semua jemaat yang duduk di kursi panjang itu bermata sipit dan berkulit putih. Wajah-wajah melayu tampak diantara mereka, khidmat menunggu misa dimulai sampai sesekali menyeka tangan dan wajahnya yang basah terkena bulir-bulir air hujan.

Tak berapa lama kemudian pendeta telah berdiri di podium, siap membuka misa malam itu. Dalam waktu yang bersamaan, muncul sekelompok ibu dari pintu masuk, berjalan sedikit tergopoh-gopoh. Mereka tak ingin tertinggal pembukaan misa. Kehadiran mereka tak bisa dipungkiri cukup menarik perhatian jemaat lainnya. Bukan hanya karena rambut mereka basah terpapar air hujan, namun pakaian lima ibu itu serupa. Kemeja garis warna kombinasi biru dan merah melekat di tubuh mereka, begitu serasi dipadu dengan celana dan rok hitam.

Beberapa jemaat berbisik, namun tak berlangsung lama, karena Pendeta telah memulai ibadah malam itu. Pemimpin di Mata Allah, menjadi tema khotbah sang Pendeta. Doa demi doa mengalun khidmat, nyanyian pujian kepada Allah dilantunkan. “Pemimpin yang baik di mata Allah adalah pemimpin yang sederhana, mencintai rakyatnya dan menginjak bumi. Tidak lupa diri,” ujar pendeta.

Usai ibadah, lima ibu ‘kembar’ itu berbaur dengan jemaat lainnya. Mereka tampak akrab dan santun, memeluk dan mencium wanita lainnya yang ada di ruangan itu. Salam hormat kepada pendeta tak lupa mereka lakukan. Begitu damai suasana gereja malam itu.

Disela obrolan dan canda, beberapa jemaat menyinggung pakaian yang mereka kenakan. Mereka tertarik untuk menjadikannya topik hangat di malam yang dingin usai khidmat memanjatkan doa kepada Allah. Meski malam sudah semakin larut, hujan tak kunjung berhenti, membuat para jemaat enggan beranjak dari bangunan yang sudah cukup tua itu. Mereka tenggelam dengan obrolan yang didominasi lima ibu cantik itu, sambil sesekali menyesapkan teh manis hangat ke sela-sela bibir mereka, sesekali tersenyum dan mengangguk.

Tepat pukul 23.00 hujan reda. Para jemaat mengambil payungnya masing-masing. Saling melambaikan tangan dan melangkahkan kaki mereka ke jalan becek di gang sempit yang hanya mampu dilewati satu sepeda motor. Pulang ke rumah sambil masih memikirkan obrolan seru mereka di gereja tadi.

Setiap akhir pekan, lima ibu itu selalu hadir dalam misa di gereja itu. Para jemaat selalu tertarik mengobrol dengan mereka. Mereka kian akrab dan menjalin persaudaraan yang diberkati Allah.

***

Rabu, 11 Juli 2012. Reporter Social TV melaporkan langsung dari studio.

“Hasil penghitungan suara cepat menyatakan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta nomor urut 9 mengalahkan perolehan suara calon petahana. Dengan hasil ini kemungkinan penyelenggaraan Pemilukada dua putaran sangat terbuka.”

***

Misa malam itu berlangsung seperti biasa. Khotbah dari pendeta dilanjutkan doa dan alunan lagu-lagu pujian kepada Allah. Hanya satu yang membuat berbeda, misa itu tak dihadiri lima ibu yang biasa hadir mengenakan pakaian yang sama dan ramah menyapa para jemaat lainnya. Namun hal itu tak menyurutkan suka cita mereka mengikuti misa. Usai misa mereka berbincang satu sama lain seperti biasa. Kali ini lebih antusias. Karena pasangan calon yang mereka dukung berhasil memenangkan pertarungan dan berhasil meraih posisi pertama perolehan suara mengalahkan lawan kuatnya, sang calon petahana. Awalnya mereka belum yakin siapa pasangan calon yang akan mereka dukung, namun semenjak lima ibu cantik itu hadir di antara mereka beberapa bulan lalu dan menyampaikan pemikirannya, berulang kali meyakinkan para jemaat, mereka tergerak untuk melangkahkan kaki menuju tempat pemungutan suara dengan tekad memperoleh perubahan atas kota mereka. Memilih calon pemimpin yang mereka yakini bisa merubah hidup mereka. “Dia pemimpin yang baik yang diberkati Allah,” begitu kata mereka.

“What opium is instilled into all disaster? It shows formidable as we approach it, but there is at last no rough rasping friction, but the most slippery sliding surfaces. We fall soft on a thought.”Ralph Waldo Emerson

2 thoughts on “Ibu ‘Kembar’ dan Strategi Pemenangan

  1. mmm…cara penceritaan menarik. tapi aku belum nemuin, sentral ceritanya dimana. soalnya tokohnya belum tergambarkan. ibu-ibu yang ngerumpi, atau ibu kembar. hehe…tapi semangat nulis terus…i’m supporting you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s