Mengejar Empat Wajah Suparmi


surat suara dan kartu pemilih Pilkada DKI Jakarta (Foto: ANTARA)

Ada yang tak biasa pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilukada DKI Jakarta. Sebuah nama yang menimbulkan banyak tanya: Suparmi. Ia tercatat empat kali secara berurutan. Alamat yang tertera berbeda, tempat lahir berbeda, nomor induk pendudukan (NIK) berbeda, tapi tanggal lahirnya sama, 31 Desember, hanya beda tahun.

Suparmi pertama disebut tinggal di Jalan Cipinang Muara III RT 001/008, Jakarta Timur, sebuah kawasan padat penduduk penuh rumah kontrakan yang berdempet, membingkai gang sempit yang hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Ia terdata sebagai perempuan kelahiran Magetan, 31 Desember 1933. Usianya sudah 79 tahun.

Cipinang Muara, Senin 9 Juli 2012, panas tak membuat para ibu yang asyik mengobrol beranjak, sembari mengasuh anak-anaknya yang masih kecil. Meski berada dekat dengan alamat Suparmi, tak satupun dari mereka mengenal nenek itu.

Juga Muklisin, Ketua RT 001/008. Sambil menghisap lintingan tembakau, ia memperlihatkan kartu pemilih yang telah diterimanya dari petugas Kelompok Penyelenggaran Pemungutan Suara (KPPS) Kelurahan Cipinang Muara. Tak ada nama Suparmi di sana.

“Sejak menerima data Daftar Pemilih Sementara (DPS) kami sudah mencoret nama Suparmi, karena memang tak ada warga kami dengan nama itu. Entah kenapa muncul lagi dalam DPT dan sekarang keluar kartu pemilihnya,” kata Muklisin.

Namun, dia mengakui, ini bukan kali pertama terjadi. “Kalau masalah seperti ini sudah sering. Misalnya, orangnya sudah pindah, sudah kami coret, tahunya muncul lagi namanya,” kata dia.

Sudah berulang kali masalah seperti ini diadukan ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan.  Tapi, “alasan dia nanti sama saja, salah ketik, banyak data yang masuk jadi tertukar. Pokoknya nggak ada jawaban pasti.”

Matahari berada tepat di atas ubun-ubun. Masih di Cipinang Muara dengan gang-gang sempitnya. Harus ada yang mengalah jika dua motor lewat berlawanan,  atau sama sekali tak bisa lewat. Pencarian kali ini untuk menemukan Suparmi kedua, yang beralamat di Jalan Cipinang Muara RT 004/004. Beda dari versi pertama, ia tercatat lahir di Yogyakarta, 31 Desember 1951.

Ketua RT setempat, Muksin ternyata sedang tak ada di rumah.  Setiap hari, sejak pagi hingga terbenam matahari, ia lebih banyak berada di luar rumah. Untuk berdagang.

Tapi, masih ada harapan untuk menelusuri perempuan misterius bernama Suparmi versi dua. “Urusan RT biasanya dilimpahkan ke adik Ketua RT, Nurlia. Dia Sekretaris RT. Rumahnya tepat di belakang rumah ini,” kata salah satu tetangga Muksin.

Sampai di muka rumah sederhana berukuran 4×8 meter, berdinding triplek, bercat putih, seorang ibu berperawakan gemuk membuka pintu. Dia menatap heran. “Ada perlu apa, ya,” kata dia, dengan alis berkernyit, menuntut penjelasan.

Setelah dijelaskan maksud kedatangan VIVAnews, ia akhirnya membuka diri.  Nurlia, nama wanita berusia 29 tahun itu, sudah sejak lahir tinggal di kawasan itu. Ia tahu hampir semua orang yang tinggal, atau pernah tinggal di sana. Karena itulah, jabatan Sekretaris RT dipercayakan kepadanya.

Ruang tamunya saat itu berantakan, puluhan kartu pemilih milik warga RT 004/004 berserakan di meja tamunya. Ibu dua anak itu mengaku tengah kebingungan mendata nama-nama warga yang akan menggunakan hak pilih pada Pemilukada, Rabu 11 Juli 2012.

Setelah memeriksa data DPT atas nama Suparmi yang ada empat versi, Nurlia terkejut, karena salah satunya beralamat di kawasan tempat ia tinggal.

Apakah ia mengenal Suparmi? “Suparmi itu dulu memang tinggal di daerah ini, bersama anak dan menantunya, Bambang Sugianto dan Sukemi. Tapi sudah lama mereka pindah ke Bekasi, sudah ada surat keterangan pindah. Makanya namanya kami coret,” kata dia, menjelaskan.

Nurlia kemudian sibuk meneliti satu demi satu kartu pemilih yang sejak tadi ada di hadapannya. Lalu ditemukanlah ketiga nama warganya – Suparmi, anak, dan menantunya — yang seharusnya sudah tak punya hak pilih itu. “Wah, iya, ini masih ada. Seharusnya sudah nggak diberikan ya, karena kan sudah kami coret.”

Ia lalu memisahkan tiga kartu pemilih keluarga Suparmi dari tumpukan. ”Ini akan saya simpan saja kalau begitu biar tidak disalahgunakan,” ujarnya.

“Anda orang keempat yang tanya”

Mahmud, Ketua RT 04/RW 05 sedang membereskan tumpukan kartu pemilih di rumahnya di dalam gang senggol, yang sore itu ramai dijadikan “lapangan” bola dadakan.

Pintu rumahnya terbuka saat VIVAnews menyambangi kediamannya di Cipinang Muara RT 004/005. Mendengar pertanyaan soal Suparmi, senyum mengembang di bibir pria berkulit sawo matang itu. “Wah, Anda orang yang keempat yang mencari nama itu,” kata dia.

Sudah ada dua orang dari LSM pemantau pemilu yang mencari nama itu. “Ketiga petugas KPPS, Anda orang yang keempat,” kata Mahmud.

Meski Suparmi yang ketiga versi DPT ditulis beralamat di Cipinang Muara RT 004/005. Perempuan yang tercatat lahir Boyolali, Jawa Tengah 31 Desember 1966 itu bukan warga RT yang dipimpin Mahmud.

“Benar-benar nggak ada. Saya juga nggak tahu asal-muasal nama ini masuk dari mana?,” kata dia.

Saat terdata di DPS, nama itu sudah dicoret. “Tapi di DPT muncul lagi, saya juga bingung, kok bisa?,” ujar Mahmud.

Skor 2 lawan 1. Ada satu sosok Suparmi yang terkonfirmasi, yang tetap dapat kartu pemilih meski sudah pindah ke Bekasi. Dua lainnya, diduga “pemilih hantu” (ghost voter)

Tinggal Suparmi keempat yang tercatat tinggal di Jalan Cipinang Indah Raya I RT 007/006. Ia kelahiran Bantul, DIY, 31 Desember 1956. Namun, tak ada satupun pemuda yang duduk-duduk di tepi gang yang mengenalnya.

Demikian juga Siti Mahmudah, yang sore itu sedang belanja sayur di gerobak yang mangkal. “Tetangga saya nggak yang namanya Suparmi,” kata dia.

Empat kasus Suparmi di kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara hanya contoh kecil di Jakarta Timur – daerah yang paling luas di antara lima wilayah ibu kota lainnya.

Jakarta Timur dijejali lebih dari dua juta jiwa, dengan kepadatan 14.311,73 jiwa per kilometer persegi. Menurut data DPT Pemilukada DKI Jakarta yang kami peroleh, kotamadya ini menjadi salah satu kawasan yang rawan kesemrawutan. Banyak dugaan data pemilih yang terindikasi ganda dan fiktif di sana.

DPT pangkal kisruh

Sejak awal Pemilukada kecurigaan mengarah pada masalah DPT yang diduga sudah semrawut sejak masih berbentuk DP4 yang dikelola oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta.

Pengamat politik Charta Politica, Arya Fernandez, mengatakan pangkal masalah kisruh DPT Pemilukada DKI ini berada pada manajemen pendataan penduduk yang tidak dikelola dengan baik sehingga mempengaruhi kualitas data DP4 ketika diserahkan ke KPU DKI.

Beberapa titik rawan yang dapat menjadi celah terjadi kesemrawutan dalam pemutakhiran data pemilih salah satunya adalah potensi pemerintah bermain mata dengan KPU DKI ketika data DP4 diserahkan.

Juga, KPU DKI bersama Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) tidak melakukan validasi, verifikasi dan identifikasi data secara baik dan benar.

“Harusnya bila PPK, PPS, melakukan verifikasi data secara benar, potensi adanya pemilih ganda dan pemilih yang tidak mendapat kartu pemilih dapat diminimalisasi. Karena sebelum proses penetapan DPS, PPS, dapat melakukan proses validasi akhir sebelum ditetapkan menjadi DPS,” kata dia.

(Dipublish di VIVAnews.com Jum’at, 13 Juli 2012)

http://metro.news.viva.co.id/news/read/335060-mengejar-empat-wajah-suparmi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s